PEREMPUAN SEBAGAI SUBJEK

Suatu hari aku dan kawan ku mengobrol tentang bagaimana masalah pernikahan dan rumah tangga. Dan yang bikin aku terkejut ternyata masih banyak suami patriarki level dewa di lingkunganku. Tapi kalau kamu perempuan dan kamu mendengar langsung mungkin kamu akan merasakan kesedihan sama sepertiku atau merasa biasa saja itu tergantung caramu memandang. Tidak perlu setuju pun tidak apa-apa. Sungguh.

Namun, harus begitukah para kebanyakan lelaki memandang kami? Hanya sebagai Objek?


Objektifikasi tubuh perempuan sering dinilai terutama dari penampilan fisik: wajah, tubuh, usia, atau daya tarik seksual. Biasanya laki laki akan lebih menghargai perempuan yang masih segar, muda dan belum melahirkan. belum turun mesin katanya.Tubuh perempuan yang memelar karena tidak merawat diri,terlalu kurus karena tekanan batin atau tidal bahagia, terlalu ini terlalu itu juga jadi patokan untuk berbuat baik dari kebanyakan sudut pandang laki-laki.


Dulu ketika aku masih remaja sampai awal 20an belum terlalu peduli dengan penampilan aku sering di anggap sebelah mata oleh lawan jenis. Jangankan mau membantu kalau aku minta tolong..menoleh saja tidak. Tapi bertahun tahun setelah lulus kuliah kurasa sudah waktunya merawat diri.

Dengan modal yang seadanya skincare pun hasil dari pabrikan yang ada di minimarket dan ternyata wow aku berubah. Orang-orang bertanya kadang laki-laki kadang perempuan apakah aku keturunan chinese? Mengapa kulitku lembut, aku memakai hair color apa, masker rambutku apa, lotionku apa, pemulas warna bibirku merk apa.
Bantuan silih berganti dari lawan jenis tanpa aku minta kalau aku terlihat kesusahan. Mereka tersenyum kalau melihatku. Jarang sekali aku menemukan perlakuan buruk dari lawan jenis semenjak aku perbaiki penampilanku. Sekarang aku tidak terlalu memaksakan agar dipandang baik oleh mereka. Aku merawat diri karena menghargai diri sendiri. Bukun untuk mereka.


Perempuan ditempatkan sebagai pihak yang “dipilih”, “dimiliki”, atau “diatur”, bukan sebagai pengambil keputusan atas hidup dan tubuhnya sendiri. Banyak juga di lingkunganku yang berkata "perempuan itu jangan pemilih nanti perawan tua. perempuan itu dipilih bukan memilih"
Hidup sedari kecil hanya di latih utuh memenuhi kebutuhan laki-laki dari perut kebawah lalu meninggal. Berlindung dibalik kata kodrat.
Kejam!

Aku ingin sekali meneriakan didepan wajah orang orang "Kaliam harusnya lihat kami sebagai SUBJEK !"
Perempuan sebagai subjek berarti perempuan dipandang dan diperlakukan sebagai individu utuh yang memiliki kesadaran, kehendak, akal, dan hak untuk menentukan hidupnya sendiri, bukan sekadar pelengkap atau objek penilaian orang lain. Perempuan ingin memilih pasangan yang terbaik untuk hidupnya. Bukan asal manusia yang "berbatang" saja yang kami pilih.

Perempuan sebagai subjek bukan berarti harus menginjak nginjak harga diri lawan jenis. Tapi Wanita sebagai subjek membangun relasi berdasarkan saling menghormati, bukan dominasi. Hubungan tidak lagi “menguasai–dikuasai”, tetapi “berdialog–bermitra. Apalagi dikehidupan rumah tangga aku ingin menjadi teman sampai mati pasanganku. Suamiku. Membangun keluarga kecil sendiri. Tetap kepala keluarga adalah suamiku. Tapi sistemnya tidak seperti pembantu dan majikan tidak seperti tuan dan hamba sahaya.

Comments

Popular posts from this blog

Madilog : Jembatan Keledai dan Tan Malaka

Das Kapital For Beginners

Memulai 30 : Intro