Ketika Pembuli Masa Kecil Menjadi Guru
Ada luka yang tidak berdarah, tetapi tinggal lama di dalam diri. Luka itu tidak selalu terasa setiap hari, namun bisa muncul kembali saat kita tidak siap. Bullying di masa sekolah dasar adalah salah satunya—dan ini adalah ceritaku.
Ingatan yang Masih Tinggal
Waktu SD, aku dibuli. Saat itu aku belum mengerti istilah bullying. Yang aku tahu hanya rasa takut berangkat sekolah, perasaan ingin menghilang di kelas, dan kebiasaan menahan diri agar tidak terlihat. Aku belajar diam lebih cepat daripada belajar percaya diri.
Bertahun-tahun kemudian, aku tumbuh, bekerja, dan berusaha menjalani hidup seperti biasa. Aku pikir aku sudah cukup berdamai dengan masa lalu—sampai suatu hari aku mendengar kabar bahwa salah satu pembuliku kini menjadi guru SD. Lebih mengejutkan lagi, ia mengajar di sekolah yang sama tempat aku dulu bersekolah.
Ketika Masa Lalu Menyapa Kembali
Mendengar itu, dadaku terasa sesak. Perasaannya sulit dijelaskan: kaget, marah, sedih, dan bingung bercampur jadi satu. Aku bertanya-tanya, apakah dia ingat apa yang pernah ia lakukan? Dan jika ia lupa, mengapa aku yang harus mengingatnya begitu jelas?
Aku sadar, orang bisa berubah. Tapi ingatan korban tidak otomatis ikut berubah. Tempat yang sama dan peran yang berkuasa membuatku seperti kembali menjadi anak kecil yang dulu tidak bisa melawan.
Tentang Memaafkan yang Tidak Dipaksakan
Banyak orang bilang memaafkan adalah tanda kedewasaan. Aku belajar bahwa memaafkan tidak bisa dipaksa. Kadang, bentuk kedewasaan justru adalah mengakui bahwa sesuatu dulu menyakitkan dan memberi diri sendiri izin untuk menjaga jarak.
Aku tidak menulis ini untuk menuntut apa pun. Aku menulis karena pengalamanku nyata. Dan perasaanku sah.
Aku sering bertanya, bagaimana jika anak-anak yang sekarang diajarinya mengalami hal yang sama seperti aku dulu? Pertanyaan itu membuatku sadar bahwa bullying bukan sekadar cerita lama. Ia adalah tanggung jawab bersama.
Dengan menulis, aku sedang merawat diriku sendiri. Aku memilih bersuara, meski pelan. Aku memilih jujur, meski tidak nyaman.
Aku bukan lagi anak SD yang takut dan tidak berdaya. Aku adalah versi diriku yang sekarang—yang punya suara, punya batas, dan berhak merasa aman.
Tulisan ini bukan tentang dendam. Ini tentang keberanian untuk mengakui luka, agar ia tidak diam-diam mengatur hidupku selamanya.
Comments
Post a Comment